Pendidikan Kristen sebagai Proses Pembentukan Manusia Seutuhnya:
Analisis Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis
Oleh:
Yonas Muanley
Email:ymuanley@gmail.com
Program Studi: Teologi / Pendidikan Agama Kristen
Sekolah Tinggi Teologi IKSM Santosa Asih
Abstrak:
Pendidikan Kristen kerap dipersempit sebagai proses pengajaran doktrin dan moralitas keagamaan, sehingga kehilangan dimensi filosofis dan teologisnya yang mendalam. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis Pendidikan Kristen sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya melalui perspektif filsafat ilmu, yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka terhadap literatur teologi, filsafat pendidikan, dan Pendidikan Agama Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara ontologis Pendidikan Kristen berakar pada pemahaman manusia sebagai imago Dei yang telah rusak oleh dosa namun dipulihkan di dalam Kristus. Secara epistemologis, Pendidikan Kristen bersumber pada wahyu Allah dalam Alkitab yang dipahami melalui iman dan rasio yang diterangi Roh Kudus. Secara aksiologis, Pendidikan Kristen berorientasi pada pembentukan karakter Kristiani dan transformasi etis yang memuliakan Allah serta berdampak sosial. Artikel ini menegaskan bahwa Pendidikan Kristen harus dipahami sebagai proses holistik yang mengintegrasikan iman dan ilmu secara utuh.
Kata kunci: pendidikan Kristen, filsafat ilmu, ontologi, epistemologi, aksiologi
Metodologi
Isi metodologi penelitian Anda...
1. Pendahuluan
Paradigma pendidikan modern cenderung berorientasi pada pencapaian kompetensi teknis, efisiensi, dan daya saing global. Pendidikan dipahami terutama sebagai sarana pengembangan keterampilan kognitif dan vokasional, sementara dimensi metafisik, moral, dan spiritual sering kali terpinggirkan (Tilaar, 2012). Dalam konteks tersebut, Pendidikan Kristen menghadapi tantangan serius untuk mempertahankan identitas dan integritas teologisnya.
Pendidikan Kristen tidak dapat direduksi menjadi aktivitas pengajaran agama atau transmisi nilai moral semata. Ia merupakan proses pembentukan manusia seutuhnya yang melibatkan dimensi spiritual, intelektual, moral, dan sosial (Knight, 2006). Oleh karena itu, refleksi filosofis menjadi kebutuhan mendasar agar Pendidikan Kristen tidak kehilangan arah normatif dan transformatifnya.
Filsafat ilmu menyediakan kerangka konseptual yang kokoh melalui tiga pertanyaan mendasar: apa hakikat realitas dan manusia (ontologi), bagaimana pengetahuan diperoleh dan dibenarkan (epistemologi), serta untuk tujuan nilai apa pendidikan diselenggarakan (aksiologi) (Groome, 2011). Artikel ini bertujuan untuk mengkaji Pendidikan Kristen sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya melalui integrasi ketiga dimensi tersebut.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode studi pustaka. Data diperoleh dari buku dan artikel ilmiah yang relevan dalam bidang teologi sistematika, filsafat pendidikan, dan Pendidikan Agama Kristen. Sumber-sumber utama meliputi pemikiran pendidikan Kristen, filsafat pendidikan, serta dokumen teologis yang membahas manusia, pengetahuan, dan nilai.
Analisis data dilakukan melalui proses reduksi, kategorisasi tematik (ontologi, epistemologi, aksiologi), dan sintesis teologis-filosofis (Creswell, 2014). Pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang komprehensif dan integratif terhadap Pendidikan Kristen sebagai disiplin ilmiah.
3. Hasil Penelitian
3.1 Dimensi Ontologis Pendidikan Kristen
Ontologi Pendidikan Kristen berakar pada pengakuan bahwa Allah adalah realitas tertinggi dan sumber segala keberadaan. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (imago Dei), yang menegaskan martabat, nilai intrinsik, dan tanggung jawab moral manusia (Wolters, 2005). Ontologi ini membedakan Pendidikan Kristen dari paradigma pendidikan sekuler yang sering memandang manusia semata-mata sebagai makhluk biologis atau sosial.
Namun, realitas dosa menyebabkan kerusakan relasi manusia dengan Allah, sesama, dan ciptaan. Distorsi ontologis ini berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk kemampuan berpikir dan bertindak secara etis (Smith, 2009). Oleh karena itu, Pendidikan Kristen tidak bersifat netral, melainkan berorientasi pada pemulihan manusia di dalam Kristus.
Pendidikan Kristen dipahami sebagai bagian dari karya redemptif Allah, yang mengarahkan manusia kepada pembaruan hidup dan keserupaan dengan Kristus. Peserta didik bukan objek pasif, melainkan subjek yang sedang dibentuk secara utuh dalam terang karya keselamatan Allah.
3.2 Dimensi Epistemologis Pendidikan Kristen
Epistemologi Pendidikan Kristen menempatkan wahyu Allah sebagai sumber utama pengetahuan. Alkitab berfungsi sebagai norma tertinggi bagi iman dan praksis pendidikan, sekaligus menjadi kerangka interpretatif bagi seluruh realitas (Van Til, 2001). Namun demikian, Pendidikan Kristen tidak menolak peran rasio, pengalaman, dan tradisi, melainkan menempatkannya secara subordinatif di bawah otoritas wahyu.
Pengetahuan dalam Pendidikan Kristen bersifat relasional dan teosentris. Proses mengetahui tidak hanya melibatkan aktivitas kognitif, tetapi juga iman yang diterangi oleh Roh Kudus (Johnston, 2015). Dengan demikian, kebenaran tidak dipahami sebagai konstruksi subjektif manusia, melainkan sebagai respons terhadap penyataan Allah.
Epistemologi ini menolak relativisme dan positivisme yang memisahkan fakta dari nilai. Sebaliknya, Pendidikan Kristen menegaskan bahwa pengetahuan sejati selalu memiliki dimensi moral dan spiritual.
3.3 Dimensi Aksiologis Pendidikan Kristen
Aksiologi Pendidikan Kristen berkaitan dengan tujuan, nilai, dan orientasi etis pendidikan. Tujuan akhir Pendidikan Kristen bukan hanya penguasaan pengetahuan teologis, tetapi pembentukan karakter Kristiani yang mencerminkan nilai-nilai Kerajaan Allah (Groome, 2011).
Nilai kasih, kekudusan, keadilan, dan kebenaran menjadi orientasi utama praksis Pendidikan Kristen. Pendidikan diarahkan pada transformasi hidup yang nyata, baik secara personal maupun sosial. Dalam konteks masyarakat majemuk, Pendidikan Kristen memiliki tanggung jawab etis untuk membentuk individu yang mampu hidup secara dialogis, adil, dan bertanggung jawab (Banks, 2008).
4. Pembahasan
Sintesis ontologi, epistemologi, dan aksiologi menegaskan bahwa Pendidikan Kristen merupakan suatu kesatuan yang integral. Ontologi memberikan dasar pemahaman tentang manusia dan realitas, epistemologi mengarahkan cara memperoleh kebenaran, dan aksiologi menentukan tujuan serta nilai praksis pendidikan.
Ketiganya tidak dapat dipisahkan tanpa mereduksi makna Pendidikan Kristen itu sendiri. Pendidikan Kristen yang kehilangan dasar ontologis akan terjebak pada pragmatisme, sementara pendidikan yang mengabaikan epistemologi wahyu akan kehilangan arah kebenaran normatif. Demikian pula, tanpa orientasi aksiologis yang jelas, Pendidikan Kristen akan kehilangan dampak transformatifnya.
5. Kesimpulan
Pendidikan Kristen merupakan proses pembentukan manusia seutuhnya yang berakar pada ontologi imago Dei, bersumber pada epistemologi wahyu Allah, dan berorientasi pada aksiologi nilai-nilai Kerajaan Allah. Pendekatan filsafat ilmu memperkaya pemahaman Pendidikan Kristen sebagai disiplin ilmiah yang integratif antara iman dan ilmu.
Artikel ini merekomendasikan agar pengembangan kurikulum dan praksis Pendidikan Kristen secara sadar mengintegrasikan dimensi ontologi, epistemologi, dan aksiologi, sehingga Pendidikan Kristen tetap relevan, transformatif, dan setia pada panggilan teologisnya.
.Daftar Pustaka
Banks, J. A.(2008). An introduction to multicultural education. Pearson.
Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. Sage.
Groome, T. H. (2011). Christian religious education. Jossey-Bass.
Knight, G. R. (2006). Philosophy and education: An introduction in Christian perspective. Andrews University Press.
Smith, J. K. A. (2009). Desiring the kingdom. Baker Academic.
Tilaar, H. A. R. (2012). Perubahan sosial dan pendidikan. Rineka Cipta.
Van Til, C. (2001). Christian epistemology. P&R Publishing.
Wolters, A. M. (2005). Creation regained. Eerdmans.
Tags :
Artikel Ilmiah Filsafat Ilmu
Posting Komentar