Artikel Terindeks Scopus atau Q1 Jurnal Pharos
Link PDF: https://www.pharosjot.com/uploads/7/1/6/3/7163688/article_4_107_1__2026_january_issue.pdf
IKSM Bisa! IKSM Hebat! STT IKSM SA Bisa! Vokasi Kuat Menguatkan Bangsa Indonesia
Manusia Mencintai Alam dalam Ber Eko Teologi
STT IKSM Santosa Asih Menyongsong Asesmen LAMDIK DAN BAN PT 2025
di Bahan Ajar Digital Yonas Muanley, website ini sebagai media informasi seluruh bahan ajar Dr Yonas Muanley, M.Th.
Progres merupakan suatu gerakan maju atau gerakan kedepan atau gerakan menuju ke tingkatan yang lebih tinggi dari kondisi awal. Progres dapat di bilang sebagai gerakan kemajuan dalam suatu usaha.
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. In ultrices, elit sed faucibus pharetra, diam mauris bibendum orci, sit amet ullamcorper purus dui sit amet augue. Donec aliquet diam ut neque mattis, eu tristique sem rutrum.

Jack Montes
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. In ultrices, elit sed faucibus pharetra, diam mauris bibendum orci, sit amet ullamcorper purus dui sit amet augue. Donec aliquet diam ut neque mattis, eu tristique sem rutrum.

Renata Martis
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. In ultrices, elit sed faucibus pharetra, diam mauris bibendum orci, sit amet ullamcorper purus dui sit amet augue. Donec aliquet diam ut neque mattis, eu tristique sem rutrum.

Jhon Kwick
JUMLAH SISWA
JUMLAH GURU
JUMLAH PEGAWAI
JUMLAH KOMITE
Kegiatan utama di lembaga ini adalah penyelenggaraan proses belajar dan mengajar, di ruang kelas maupun luar ruang kelas. Bentuk pelaksanaannya berupa kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Pada hakikatnya kegiatan ini bertujuan untuk membantu perkembangan siswa sesuai kebutuhan, potensi, bakat dan minat siswa.
Oleh:
Yonas Muanley Abstrak:
Pendidikan Agama Kristen sering dipahami secara normatif dan praktis sebagai sarana pewarisan iman, sementara refleksi filosofis terhadap dasar keilmuannya masih relatif terbatas. Dalam konteks pendidikan tinggi di Indonesia, kondisi ini berdampak pada lemahnya legitimasi akademik Pendidikan Agama Kristen sebagai disiplin ilmu. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dasar ontologis Pendidikan Agama Kristen dengan menelaah hakikat manusia, pengetahuan, dan iman dalam perspektif filsafat ilmu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi pustaka terhadap literatur filsafat ilmu, teologi Kristen, dan Pendidikan Agama Kristen. Hasil kajian menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Kristen memiliki fondasi ontologis yang khas, yakni manusia sebagai imago Dei, pengetahuan yang bersumber dari integrasi wahyu, rasio, dan pengalaman, serta iman sebagai realitas ontologis yang memberi makna dan arah bagi proses pendidikan. Kebaruan (novelty) artikel ini terletak pada perumusan kerangka ontologis Pendidikan Agama Kristen yang sistematis dalam perspektif filsafat ilmu, yang masih jarang dikaji secara eksplisit dalam konteks akademik Indonesia. Kajian ini berkontribusi secara teoretis dalam memperkuat legitimasi Pendidikan Agama Kristen sebagai disiplin ilmiah serta memberikan dasar konseptual bagi pengembangan kurikulum dan praktik pedagogis yang reflektif dan kontekstual. Untuk membaca metodologi dan hasil penelitian lengkap, silakan masukkan kode akses. Isi metodologi penelitian Anda... 1. Pendahuluan
E-mail:ymuanley@sttiksm.ac.id
Sekolah Tinggi Teologi IKSM Santosa Asih
Program Studi Pendidikan Agama Kristen
Kata kunci: filsafat ilmu, ontologi, pendidikan agama Kristen, iman, pengetahuan.
Materi Terkunci
Metodologi
Ontologi Manusia dalam Pendidikan Agama Kristen
Hasil kajian menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Kristen memiliki pemahaman ontologis yang khas mengenai manusia. Manusia dipahami bukan hanya sebagai makhluk rasional atau sosial, melainkan sebagai pribadi utuh yang memiliki dimensi jasmani, intelektual, moral, dan spiritual. Konsep teologis imago Dei menjadi fondasi ontologis utama yang menegaskan martabat dan nilai intrinsik manusia dalam proses pendidikan (Hoekema, 1994).
Dalam konteks pendidikan, pemahaman ini menuntut pendekatan pedagogis yang holistik dan personal (Knight, 2006). Peserta didik diposisikan sebagai subjek aktif dalam proses pendidikan, bukan sebagai objek pasif. Dengan demikian, Pendidikan Agama Kristen berorientasi pada pembentukan pribadi secara menyeluruh, yang mencakup pengembangan iman, pengetahuan, dan karakter.
Ontologi Pengetahuan dalam Pendidikan Agama Kristen
Kajian ini menunjukkan bahwa pengetahuan dalam Pendidikan Agama Kristen dipahami secara integratif. Dalam perspektif filsafat ilmu, pengetahuan tidak bersifat tunggal, melainkan bersumber dari berbagai dimensi epistemik (Groome, 2011). Pendidikan Agama Kristen memandang wahyu sebagai sumber kebenaran fundamental yang diolah melalui rasio dan pengalaman manusia (Frame, 2010).
Integrasi antara wahyu, rasio, dan pengalaman menolak dikotomi tajam antara iman dan ilmu. Pengetahuan iman tidak diposisikan sebagai lawan pengetahuan ilmiah, melainkan sebagai dimensi yang memperkaya pemahaman manusia tentang realitas. Dengan kerangka ini, Pendidikan Agama Kristen memiliki landasan ontologis yang memungkinkan dialog konstruktif dengan ilmu pengetahuan modern tanpa kehilangan orientasi teologisnya.
Ontologi Iman sebagai Dasar Pendidikan
Iman dalam Pendidikan Agama Kristen dipahami sebagai realitas ontologis yang membentuk horizon makna manusia (Tillich, 1957). Iman tidak meniadakan rasionalitas, tetapi memberikan orientasi transenden bagi proses pendidikan dan pencarian kebenaran (Newbigin, 1989).
Hasil kajian menegaskan bahwa iman bukan sekadar sikap personal atau afeksi religius, melainkan menjadi kerangka ontologis yang mengarahkan tujuan, isi, dan praksis pendidikan. Iman membentuk cara pandang manusia terhadap diri, dunia, dan Allah, serta memberikan arah etis dan eksistensial bagi seluruh proses pembelajaran dalam Pendidikan Agama Kristen.
PEMBAHASAN
Fondasi Ontologis dan Legitimasi Keilmuan Pendidikan Agama Kristen
Dalam filsafat ilmu, legitimasi suatu disiplin ditentukan oleh kejelasan objek material dan objek formalnya (Suriasumantri, 2017). Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Kristen memiliki fondasi ontologis yang memadai untuk diakui sebagai disiplin ilmiah. Objek kajiannya berupa manusia dan proses pendidikan yang dipahami dalam terang iman Kristen memberikan kekhasan ontologis yang membedakannya dari disiplin pendidikan lainnya.
Kejelasan ontologis ini memungkinkan Pendidikan Agama Kristen berdialog secara kritis dengan disiplin ilmu lain tanpa kehilangan identitas teologisnya (Hiebert, 1994). Dalam konteks akademik Indonesia, refleksi ontologis ini memperkuat posisi Pendidikan Agama Kristen di tengah tuntutan saintifikasi ilmu, sekaligus menegaskan bahwa unsur iman tidak bertentangan dengan rasionalitas ilmiah, melainkan memperkaya dan memperdalam makna keilmuan.
Implikasi Ontologis terhadap Praktik Pendidikan Kristen
Fondasi ontologis yang kuat berimplikasi langsung pada praktik Pendidikan Agama Kristen. Guru atau pendidik Kristen tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi sebagai pendamping dalam proses pembentukan makna, iman, dan karakter peserta didik. Oleh karena itu, kurikulum Pendidikan Agama Kristen perlu dirancang dengan mempertimbangkan dimensi ontologis peserta didik sebagai pribadi yang beriman, berpikir, dan berelasi.
Pendekatan pedagogis yang dialogis, reflektif, dan kontekstual menjadi relevan karena sejalan dengan ontologi manusia yang dinamis. Dengan demikian, Pendidikan Agama Kristen tidak terjebak dalam pengajaran yang dogmatis dan mekanis, tetapi berkembang sebagai praksis pendidikan yang kritis, transformatif, dan bermakna.
Kontribusi Teoretis bagi Pengembangan Pendidikan Agama Kristen
Secara teoretis, artikel ini berkontribusi pada penguatan kerangka filsafat ilmu dalam Pendidikan Agama Kristen. Perumusan fondasi ontologis yang sistematis membuka ruang bagi pengembangan kajian epistemologis dan aksiologis secara lebih terarah. Dengan kerangka tersebut, Pendidikan Agama Kristen dapat dibangun sebagai disiplin ilmu yang utuh, reflektif, dan kontekstual dalam konteks Indonesia.
KESIMPULAN
Artikel ini menyimpulkan bahwa fondasi ontologis merupakan elemen kunci dalam pengembangan Pendidikan Agama Kristen sebagai disiplin ilmiah. Hakikat manusia sebagai imago Dei, pengetahuan yang bersumber dari integrasi wahyu, rasio, dan pengalaman, serta iman sebagai realitas ontologis membentuk dasar konseptual yang khas dan koheren.
Melalui perspektif filsafat ilmu, Pendidikan Agama Kristen memperoleh legitimasi akademik tanpa kehilangan identitas teologisnya. Kajian ini merekomendasikan agar refleksi ontologis dijadikan bagian integral dalam pengembangan kurikulum, pedagogi, dan penelitian Pendidikan Agama Kristen di Indonesia, sehingga mampu berkontribusi secara signifikan dalam diskursus keilmuan dan praksis pendidikan nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Chalmers, A. F. (2013). What is this thing called science? (4th ed.). Open University Press.
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). SAGE Publications.
Frame, J. M. (2010). The doctrine of the knowledge of God. P&R Publishing.
Groome, T. H. (2011). Will there be faith? A new vision for educating and growing disciples. HarperOne.
Hiebert, P. G. (1994). Anthropological insights for missionaries. Baker Academic.
Hoekema, A. A. (1994). Created in God’s image. Eerdmans.
Homrighausen, E. G., & Enklaar, I. H. (2015). Pendidikan agama Kristen. BPK Gunung Mulia.
Kaelan. (2012). Metode penelitian kualitatif interdisipliner. Paradigma.
Knight, G. R. (2006). Philosophy and education: An introduction in Christian perspective (4th ed.). Andrews University Press.
Newbigin, L. (1989). The gospel in a pluralist society. Eerdmans.
Pazmiño, R. W. (2008). Foundational issues in Christian education: An introduction in evangelical perspective (3rd ed.). Baker Academic.
Suriasumantri, J. S. (2017). Filsafat ilmu: Sebuah pengantar populer. Pustaka Sinar Harapan.
Tillich, P. (1957). Dynamics of faith. Harper & Row.
Oleh:
Yonas Muanley
Sekolah Tinggi Teologi IKSM Santosa Asih
Abstrak:
Pendidikan Kristen kerap dipersempit sebagai proses pengajaran doktrin dan moralitas keagamaan, sehingga kehilangan dimensi filosofis dan teologisnya yang mendalam. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis Pendidikan Kristen sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya melalui perspektif filsafat ilmu, yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka terhadap literatur teologi, filsafat pendidikan, dan Pendidikan Agama Kristen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara ontologis Pendidikan Kristen berakar pada pemahaman manusia sebagai imago Dei yang telah rusak oleh dosa namun dipulihkan di dalam Kristus. Secara epistemologis, Pendidikan Kristen bersumber pada wahyu Allah dalam Alkitab yang dipahami melalui iman dan rasio yang diterangi Roh Kudus. Secara aksiologis, Pendidikan Kristen berorientasi pada pembentukan karakter Kristiani dan transformasi etis yang memuliakan Allah serta berdampak sosial. Artikel ini menegaskan bahwa Pendidikan Kristen harus dipahami sebagai proses holistik yang mengintegrasikan iman dan ilmu secara utuh.
Kata kunci: pendidikan Kristen, filsafat ilmu, ontologi, epistemologi, aksiologi
Untuk membaca metodologi dan hasil penelitian lengkap, silakan masukkan kode akses. Isi metodologi penelitian Anda... 1. Pendahuluan Banks, J. A.(2008). An introduction to multicultural education. Pearson.
Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. Sage.
Email:ymuanley@gmail.com
Program Studi: Teologi / Pendidikan Agama Kristen
Materi Terkunci
Metodologi
5. Kesimpulan
Pendidikan Kristen merupakan proses pembentukan manusia seutuhnya yang berakar pada ontologi imago Dei, bersumber pada epistemologi wahyu Allah, dan berorientasi pada aksiologi nilai-nilai Kerajaan Allah. Pendekatan filsafat ilmu memperkaya pemahaman Pendidikan Kristen sebagai disiplin ilmiah yang integratif antara iman dan ilmu.
Artikel ini merekomendasikan agar pengembangan kurikulum dan praksis Pendidikan Kristen secara sadar mengintegrasikan dimensi ontologi, epistemologi, dan aksiologi, sehingga Pendidikan Kristen tetap relevan, transformatif, dan setia pada panggilan teologisnya.
.Daftar Pustaka
...
Konten ini memerlukan otorisasi. Silakan masukkan kode akses yang diberikan oleh penulis.
Kode akses salah. Hubungi admin untuk mendapatkan akses.
Bahan Ajar Digital oleh Dr. Yonas Muanley, M.Th.
Materi ini membahas teori kebenaran dalam pendidikan, meliputi teori Korespondensi, Koherensi, Pragmatis, dan Konsensus. Tujuan pembelajaran adalah agar mahasiswa memahami konsep kebenaran dan penerapannya dalam konteks pendidikan umum dan pendidikan Kristen.
Contoh penerapan: Guru mengajarkan prinsip fisika atau biologi yang dapat diuji melalui eksperimen (kebenaran korespondensi) atau mengaitkan teori-teori yang sudah ada agar konsisten satu sama lain (kebenaran koherensi).
Video singkat ini menjelaskan teori kebenaran dan penerapannya dalam pendidikan.
Kerjakan pertanyaan refleksi berikut:
Kerjakan kuis singkat di Google Form:
Klik untuk mengerjakan kuisSilakan unduh materi lengkap dalam format PDF:
Download PDF Materi